Percik Keluarga, Bekasi – Melihat Luna yang antusias banget ketika melihat kambing pas belajar berjalan di Taman Kebalen lalu. Belum lagi, kalau ada kucing lewat – girangnya bukan main. Bunda pun membelikan poster bergambar binatang. Harganya murah loh, dengan uang lima ribu bisa dapet tiga poster yang berbeda. Bunda pilih aneka binatang, aneka buah, dan huruf hijaiyah.
Pas sampai rumah, Bunda sodorkan langsung poster binatang ke Luna. Dia semangat banget, bahkan posternya sampai didudukin. Tetep dong, keinginan Bunda mengajarkan alias mengenalkan nama-nama binatang. Ya, maksud hati biar Luna familier dengan bentuk binatang – minimal kucing dan kambing yang pernah dilihat langsung.
But, dengan gesit tangan Luna sudah menggenggam pinggiran poster. Sobek deh sebagian. Hmmm… Bunda biarkan saja dan tetap pasang di kaca lemari yang terjangkau oleh Luna. Lumayan, Luna anteng dan tidak maneuver ke halaman maupun dapur.
Tiba-tiba,o…ooo… celah sobekan “ketahuan” Luna. Jadilah poster terbagi dua. Ayah bantu coba dengan memperbaikinya lagi. Cari-cari double tip enggak ketemu, trus pakai lakban transparan juga enggak ketemu, sedangkan Luna makin antusias “membantu” Ayah. Bunda geleng-geleng kepala lihat “kesibukan” Ayah dan Luna sambil bilang, “Ayah… daripada ribet mendingan disobek aja, ganti yang buah-buahan aja…”. Ayah pun terdiam.
08 Oktober 2010
Bertahan Satu Hari Saja
07 Oktober 2010
Kontes Menulis: Ketika Anakku Sakit
Percik Keluarga, Bekasi – Menyambut peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPSS) di Indonesia yang jatuh pada 15 Oktober 2010 mendatang, Bunda ingin menyelenggarakan kontes menulis. Bunda menggelar kontes ini karena didasari pengalaman Luna Kena Diare. Nah, dari kejadian itu, Bunda jadi berpikir bahwa pola hidup bersih dan sehat itu penting. Namun sayang, kesadaran sebagian masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat masih sedikit. Oleh karena itu Bunda pun menggelar kontes ini sekaligus mensosialisasikan dan memperingati HCTPSS.
Berhadiah 1 Buah USB Flash Band 1GB
Nah, untuk ketentuan lombanya sederhana dan gampang kok, yakni:
1. Peserta memiliki blog.
2. Upload artikel yang menceritakan pengalaman pertama ketika anak sakit. Lebih menarik jika dituliskan tips-tips singkat.
3. Berikan komentar dan link pada postingan ini sebagai tanda keikutsertaan.
4. Jangan lupa tuliskan artikel diikut sertakan dalam Kontes Menulis: Ketika Anakku Sakit di Percik Keluarga.
5. Pada tulisan Kontes Menulis: Ketika Anakku Sakit dipasang tautan link postingan ini.
6. Sedangkan pada tulisan Percik Keluarga dipasang tautan link alamat blog Percik Keluarga.
7. Satu blog satu artikel.
8. Kontes ini akan ditutup pada tanggal 15 Oktober 2010, pukul 12 malam.
9. Nama pemenang akan diumumkan pada 29 Oktober 2010.
10. Penentuan pemenang berdasarkan keputusan Ayah Bunda-nya Luna – pemilik blog Percik Keluarga.
Yuk, ikutan berpartisipasi… Selain bisa berbagi kebiasaan hidup bersih dan sehat, kalau beruntung bisa mendapatkan hadiah 1 Buah USB Flash Band 1GB loh!
04 Oktober 2010
Luna Kena Diare
Percik Keluarga, Bekasi – Sebenarnya, ini cerita dua minggu lalu. Tapi, berhubung Bunda selesai deadline maka tulisan ini baru digarap. Trus, ketika ada waktu luang untuk menulis, eh foto-foto belum terkumpul. Jadilah rencana posting tertunda terus.
19 September 2010
Weekend ini, Luna full bersama Ayah dan Bunda di rumah. Oma sedang menginap di rumah Baby Kirana – sepupu Luna. Karena stok persediaan lauk untuk bubur Luna habis, Bunda pun cari di warung terdekat tetapi enggak ada. Terbesit, beli sate di tukang bubur dan tinggal diolah lagi. Habis, mau kasih telur, Luna enggak begitu suka. Selalu dimakan setengah porsi. Jadi deh, Bunda bikin bubur hati ayam wortel buncis.
20 September 2010
Pas Bunda pulang kerja, Oma bilang kalau pup Luna tidak seperti biasanya alias sedikit cair– maaf blakblakan. Meskipun baru sekali, tetapi sampai tembus ke diaper yang dipakai. Wuih, dahsyat ya? Lalu, Bunda tanya kondisi Luna, kata Oma, Luna masih seperti biasa. Aktif main sana-sini.
Oma berasumsi, bisa jadi ini karena bubur hati ayam yang Bunda bikin kemarin. Bunda pikir, bisa saja karena sate tersebut memang sudah diberi bumbu oleh si penjual. Tapi, karena umumnya setiap anak pasti pernah mengalami diare – jadi Bunda dan keluarga tidak khawatir. Tindakan pertama yang dilakukan saat itu adalah memberi air putih dan susu dengan kondisi hangat kuku.
21 September 2010
Untuk pencegahan dan meminimalisir hal-hal lain, Luna pun periksa ke klinik dekat rumah dan diberi dua resep obat. Satu bentuk sirup dan satu lagi bubuk yang bisa dicairkan. Nah, sehabis sarapan, Luna diberi obat tersebut yang dimasukkan dalam botol air putih. Apa reaksinya?
PAGI - Sedotan pertama, Luna kaget. Tetapi masih disedot sampai habis setengah. Enggak berapa lama, semua makanan yang sudah masuk perut keluar alias muntah.
SIANG – Obat serbuk dimasukkan ke dalam botol air putih. Pertama, dicicipi dulu rasanya. Pas tahu isinya bukan air putih Luna tutup mulut – sama sekali enggak mau sedot. Oma pun bikin strategi, minum obatnya pakai sendok langsung. Ya, walaupun masih ada yang dikeluarin lagi, minimal ada yang tertelan. Tentunya, enggak berapa lama – muntah juga.
MALAM – Tetap pakai sendok. Pas Luna ditawarin minum air putih (maksudnya untuk mendorong obat supaya tertelan), dia menolak. Jadilah, obat 80% yang sudah masuk keluar lagi. Nah, selang beberapa jam – Luna ogah dikasih air putih pakai botol yang biasa dipakai. Sepertinya, ingatannya tajam atau trauma. BOTOL AIR PUTIH = OBAT.
Setiap dikasih obat, Luna pasti muntah. Padahal jarak minum susu atau makan dengan jadwal minum obat sudah jeda satu jam lebih. Karena malam hari Luna masih pup, kepikiran untuk bawa ke RS. Tapi sudah malam, jadi Ayah pastikan jadwal dokter anak untuk pagi hari.
22 September 2010
Pagi-pagi, Luna sudah sampai di RS Ibu dan Anak – Tiara Bunda, Bekasi. Luna pasien nomor satu. Enggak lama, Luna diperiksa oleh dokter anak Sa’adah. Katanya, saluran pencernaan Luna yang bermasalah. Ada bakteri jahat. Sumbernya bisa dari mainan atau benda-benda yang diemutnya.
Ya, Luna memang lagi seneng ngemut dan masukin semua benda yang dilihat dan dipegangnya, ke mulut. Nah, Luna diberi 4 obat yakni: Sanprima, Zincare, Praxion Paracetamol, dan Lacto-B.
Untuk mengurangi diare, sementara ini Luna diberi susu LLM SGM. Namun, jika pup sudah normal, boleh pakai susu biasanya – Lactogen 2. Oya, kata dokter anak Sa’adah, Luna pun menghindari makanan sayur-mayur seperti bayam dan wortel. Jadi untuk ke depan, Luna makan bubur plus daging ayam atau hati dulu.
Selepas periksa, Bunda memutuskan untuk tidak masuk kantor. Bunda ingin menemani Luna. Sedih rasanya, lihat Luna yang biasa ceria dan sekarang hanya tidur-tiduran di kasur. Guling-guling di kasur. Badannya lemah, jadi semua mainan Bunda boyong ke kasur.
Untungnya, dua hari kemudian Luna membaik. Kondisi kembali seperti semula. Sudah merangkak sana-sini, bongkar keranjang, main sama Kitty dan kawan-kawan, menari setiap dengar irama, dan banyak lainnya. Bunda senang sekali bisa melihat tawa ceria Luna lagi. Sehat selalu ya..sayang…
Nah, karena kejadian Luna yang terkena diare ini. Bunda jadi terinspirasi untuk membuat kontes penulisan. Untuk info selanjutnya bisa dilihat dipostingan selanjutnya. Ditunggu ya…
27 September 2010
Melatih Luna Belajar Berjalan
Percik Keluarga, Bekasi – Berdasarkan keseharian Luna yang mulai rembetan, Bunda insiatif untuk melatih Luna belajar berjalan. Sifatnya tidak memaksa dan hanya sesekali saja. Bunda belum ada target dini mengenai Luna berjalan karena usai Luna pun masih 9 bulan. Lagipula, proses berjalan setiap anak tidak sama – berbeda satu sama lain.
Namun, memang tak menutup kemungkinan – sebagai orang tua, Bunda ingin proses tumbuh kembang Luna lancar. Nah, Bunda pun mencoba pas jalan-jalan ke Taman Kebalen kemarin. Bunda men-tatah Luna tetapi Bunda pegang ketiak – bukan tangan.
Terlihat, Luna masih bingung dengan langkahnya. Apalagi, ini pertama kalinya berjalan mengenakan sepatu Minnie Mouse. Lucu, Luna malah sibuk mengamati sepatunya dan ingin mengambilnya. Hihihi… karena biasanya, kalau di rumah kan berjalan tanpa alas kaki. Lama-lama, ehmmm… malah ingin duduk. Meskipun begitu, Bunda yakin, Luna pasti bisa. Terus berlatih ya sayang...
Karena penasaran all about walking, Bunda “jalan-jalan” ke Google. Ada beberapa artikel menarik, antara lain:
• Baby Walker
Sebenarnya, penggunaan baby walker masih pro kontra. Ada yang mengatakan, baby walker mendorong anak untuk belajar berjalan. Namun ada pula yang berpendapat, baby walker justru bikin anak malas berjalan. Belum lagi, baby walker jika digunakan tanpa pengawasan orang tua bisa terjadi hal-hal yang tidak berkenan, misal si anak menarik taplak meja. Belum lagi, sekeliling baby walker yang aman menjadikan anak tidak bisa memahami “jatuh maka sakit” dan sebagainya.
Nah, kalau Bunda dan Ayah, dari awal tidak ingin menggunakan baby walker. Ayah berpendapat, jika menggunakan baby walker Luna tidak bisa eksplorasi sekeliling. Memang, sedikit repot mengawasi Luna yang super aktif. Tetapi, tekad Ayah untuk mengajarkan “sebab-akibat”, Bunda pikir masuk akal.
Sedangkan dari sisi Bunda, baby walker memakan space :D, maklum rumah minimalis. Lagipula, sayang jika baby walker sudah tidak digunakan lagi, mau dihibahkan ke siapa?
• Tatah
Ini bisa dilakukan secara berkala. Jika anak sudah mulai menunjukkan tanda-tanda ingin berjalan, bisa dilakukan tatah. Bisa dilakukan sesekali, dan lambat-laun lamanya tatah bisa diperpanjang.
Bunda menerapkan ini. Sekarang baru sesekali saja dan belum rutin. Masih suka-suka Bunda-nya. Nah, cari sana-sini, ternyata ada cara yang baik men-tatah yakni membiarkan anak menapakkan kakinya di rumput yang berembun. Ini merangsang putik-putik syaraf telapak kaki. Next, Bunda mau coba cara ini… jadi bye bye sepatu Minnie Mouse.