Bunda udah lama banget nih pengen posting perlengkapan untuk persiapan persalinan. But, ada aja kendalanya. Jadinya, dari pada enggak fokus masukin barang-barang bawaannya dan takut ada yang tertinggal makanya Bunda tunda deh.
Setelah proses hunting perlengkapan D’Baby, Bunda mulai mengumpulkan semua barang – baik yang dibeli maupun warisan dari keponakan. Hehehe… ternyata, setelah dikumpulkan buanyak banget, Bunda jadi pusing, khususnya baju-baju yang mau dipakai D’Baby pas lahiran. Abis, semua baju imut-imut semua, nyaris tak bisa dibedakan mana yang untuk 0 bulan, 1 bulan, 2, bulan, dan seterusnya. Maklum aja, Bunda kan belum paham ukuran D’Baby dari bulan ke bulan. Jadi deh, tanya sana-sini mana yang cocok untuk dipakai sesaat setelah D’Baby lahir.
Nah, ini daftar list yang Bunda rencanakan untuk masuk ke dalam tas, jadi pas hari H-nya tinggal tenteng aja:
Untuk Bunda
• 3-4 Daster kancing depan (bukaan depan biar gampang ngasih ASI)
• 3-4 Kain panjang & lebar (untuk nampung darah pas persalinan)
• 1 Set pakaian (untuk pulang dari RS) & Jilbab
• 2 Bungkus pembalut maternity
• Gurita Bunda
• Pakaian dalam (Celana dalam & Bra untuk menyusui)
• Sandal
• 1 Set alat mandi & make-up seperlunya (biar kelihatan segar dan wangi kalau ada yang jenguk)
• Obat penambah darah & aneka camilan (untuk pemulihan stamina)
• Handuk sedang
Untuk D’Baby
• 1 Lusin popok
• 1 Lusin baju
• 3 Buah gurita (bawa sedikit coz biasanya suka enggak boleh dipakai sama dokter RS)
• 6 buah kain bendongan
• 3 Buah sarung tangan, sarung kaki, dan topi
• 1 Buah gendongan
• 1 Set Johnson and Johnson plus minyak telon
• Handuk sedang
• Botol susu (buat jaga-jaga aja)
Untuk Ayah
• 3 Kaos & Celana
• Pakaian dalam secukupnya
• Handuk (tapi bisa juga pakai handuk Bunda)
• Sweater / Jaket
Perlengkapan Umum
• Termos kecil (enggak tahu buat apa, tapi persiapan aja)
• Surat-surat penting (KTP, Kartu ATM, dll) (buat administrasi)
Apalagi yach? Duh, takut ada yang kelupaan nih… Sementara ini dulu deh, sambil mikir-mikir apa aja yang mesti ditambahin. Mungkin, lebih aman semua dibawa aja kali yach…hehehheheee…
Ada yang mau nambahin??? Ditunggu masukannya….
05 November 2009
Perlengkapan Persiapan Lahiran
02 November 2009
Hunting Kebutuhan D’Baby
Ini moment yang ditunggu-tunggu bagi para calon ibu – termasuk Bunda. Setelah menahan keinginan untuk membeli kebutuhan D’Baby karena belum beranjak pada usia kehamilan 7 bulan. Lagi pula, sayang kalau membeli kebutuhan D’Baby sebelum waktunya – karena belum ketahuan jenis kelaminnya. Jadi enggak bisa menentukan pilihan warna pink (identik perempuan) atau biru (identik laki-laki).
Tetapi, setelah tahu jenis kelamin D’Baby dan usia kehamilan Bunda beranjak 8 bulan, Ayah dan Bunda pun langsung menjadwalkan hari Sabtu-Minggu untuk hunting apa saja kebutuhan D’Baby. Khususnya, untuk masa awal kelahiran dan satu bulan ke depan. Untuk lokasi, Ayah dan Bunda memutuskan menyusuri kawasan ITC Depok. Selain barang-barangnya lengkap, harga juga kompetitif.
Nah, ini daftar belanjaan untuk menyambut D’Baby: kasur lengkap; perlak; selimut tebal; kelambu; popok; celana pop; sarung tangan, kaki, dan topi; paket bedak Jhonson; botol susu & dot; sikat sterilisasi; sabun pembersih; kapas, cutton but, kain kasa, minyak telon, dan masih banyak lagi. Maaf, enggak bisa di list satu per satu, buanyaaakkk bangeeeeettttt….
Hmmm…kayaknya itu aja deh yang Bunda butuhkan. Oya, Bunda sengaja enggak beli baju atasan untuk D’Baby karena warisan dari keponakan, Aileen Alvina masih banyak dan bagus-bagus. Semuanya masih lengkap. Lumayan juga sih, jadi menghemat pengeluaran untuk kebutuhan yang lain. Tadinya sih, Bunda mau beli yang baru, masa buat anak kok dikasih yang bekas. Ayah juga berpendapat yang sama. But, ketika dipikirkan lagi, dan keluarga juga menyarankan untuk tidak beli, Bunda pun manggut. Alasannya, masa pakai pakaian untuk bayi relatif singkat, jadi sayang.
Bunda sempat bingung juga sih, milih corak dan motifnya. Semua barang yang dipajang bagus dan memikat hati. Rasanya, pengen borong semua deh!. But, dengan planning awal yakni belanja kebutuhan untuk periode lahiran dan satu bulan ke depan saja yang jadi prioritas. Sisanya, dicicil setelah D’Baby lahir. Oya, maksud Ayah dan Bunda pilah-pilih kebutuhan agar budget untuk belanja tidak membludak. Ini juga untuk mengantisipasi biaya lahiran – yang belum bisa diprediksi biayanya. Jadi, istilahnya cari aman.
Selain itu, sebelum belanja, Bunda dan Ayah khusus mampir ke tempat Mbak Dewi (Kakak Bunda) untuk meminta tip-tip barang apa saja yang dibutuhkan dan perkiraan harganya. Langsung deh, bikin daftar belanjanya. Ini penting loh, biar pas belanja jadi enggak kalap. Trus, daftar belanja juga perlu agar barang-barang yang menjadi prioritas tidak terlupakan.
Hmmm… tapi, namanya juga calon orang tua baru, Ayah dan Bunda rada bingung juga pas belanja. Tahu bentuk barangnya tapi enggak tahu namanya – dan sebaliknya. Tanya ini – tanya itu sama si penjual, menghabiskan waktu sampai 3 jam! Wah… pokoknya seru deh!
26 Oktober 2009
21 Oktober 2009
Up Date Hasil USG – Pindah Bidan
Senangnya, ketika melihat hasil USG untuk kedua kalinya. Hasilnya mengarah pada keterangan positif. Jika dua minggu sebelumnya posisi D’Baby sungsang, sekarang tidak lagi. Posisi kepala sudah di perut bagian bawah, menghadap ke kanan alias posisi punggung D’Baby ada di bagian kiri perut Bunda. Pantas saja, belakangan Bunda sering merasakan tendangan dan getaran lebih aktif di bagian kanan – ooohhh… ternyata ini karena posisi D’Baby toh!
Sekadar informasi, selama dua minggu sebelum periksa, Bunda sering melakukan posisi senam antisungsang yang dianjurkan dokter. Pokoknya, demi posisi terbaik D’Baby, Bunda pasti sempatkan untuk nungging selama 5-10 menit – biasanya selepas shalat Subuh dan pas mau tidur malam. Caranya gampang kok, posisi senam antisungsang hampir sama dengan posisi sujud ketika shalat. Hanya saja, bagian kepala menghadap ke kanan/kiri; bagian dada disanggah bantal kecil agar pernafasan lancar; dan kedua kaki (dari bagian lutut) diangkat sedikit.
Selain berita di atas, kebahagiaan Bunda dan Ayah makin lengkap. Hasil pemeriksaan untuk jenis kelamin D’Baby adalah perempuan. Wuih… bahagianya, meskipun Bunda dan Ayah tidak mematok secara resmi keinginan akan jenis kelamin D’Baby kelak – kuncinya, yang penting sehat dan baik. Trus, yang membuat Bunda dan Ayah terkagum-kagum adalah ketika melihat secara jelas anggota tubuh D’Baby, seperti kaki dan tangannya yang mungil. Belum lagi ekspresi wajah dan gerakan mulut D’Baby yang seolah-olah sedang minum – menakjubkan.
Dari Bidan Poer ke Bidan Ida
Mungkin tak banyak yang melakukan pindah bidan seperti Bunda. Iya, Bunda menyadari memang lebih baik ketika pemeriksaan awal kehamilan hingga proses persalinan cukup ditangani oleh satu bidan saja. Ya, pastinya tujuannya agar pas hari H, bidan sudah mengetahui secara jelas perjalanan Bunda dan D’Baby dari bulan ke bulan.
But, keputusan Bunda dan Ayah untuk pindah bidan adalah karena ingin dekat dengan orang tua kandung Bunda. Berhubung waktu awal nikah, kehamilan, dan dekat dengan tempat kerja – Bunda pun hijrah ke Bekasi, rumah orang tua Ayah. Nah, pas mendekati kelahiran kok rasanya lebih afdhol jika dekat dengan ibu yang melahirkan Bunda, yang tinggal di Depok. Jadi deh, keputusan pindah pun diambil.
Uniknya, pas periksa ke Bidan Ida (Depok) – awal masuk disambut seorang perempuan muda. Bunda dan Ayah berpikiran sama, yupz ini pasti asisten Bidan Ida. Dugaan itu benar, karena perempuan tadi hanya memeriksa tekanan darah Bunda saja. Selang beberapa menit, datang perempuan muda yang berbeda lagi, Bunda dan Ayah saling menoleh. Mungkin dalam hati Bunda dan Ayah sama lagi, masa sih ini Bidan Ida?. Rasanya, terlalu muda. Kebimbangan makin kuat kala perempuan itu duduk dan menanyakan beberapa hal ke Bunda seperti biodata dan sebagainya.
Maaf, tanpa mengecilkan perempuan itu, Bunda sempat ragu. Selain usianya yang masih muda, perempuan tersebut sempat latah ketika menjatuhkan pulpen dari tangannya. Kebayang dong? Kalau hal ini terjadi ketika proses persalinan berlangsung???. Maklum saja, ini adalah suatu proses penting dalam kehidupan Bunda. Dimana, Bunda harus melahirkan generasi baru dengan semaksimal mungkin.
But, ketakutan itu buyar. Sosok Bidan Ida pun muncul. Ia terlihat cantik dan penampilannya terlihat “segar”. Ramah pula. Bunda pun tak ragu lagi. Semoga Bidan Ida bisa membantu proses kelahiran Bunda dengan lancar. Dan, pastinya tak lepas dari Sang Pencipta – Allah SWT.




